POTRET KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN DI INDONESIA TAHUN 2018 DENGAN INDIKATOR RASIO GINI, KURVA LORENTZ, DAN UKURAN BANK DUNIA

  • M Anas Univversitas Nusantara PGRI Kediri
  • Lilia Pasca Riani Universitas Negeri Yogyakarta
  • Dian Lianawati Universitas Nusantara PGRI Kediri
Keywords: Rasio Gini, Kurva Lorentz, ukuran Bank Dunia, ketimpangan, distribusi pendapatan

Abstract

Permasalahan klasik pembangunan ekonomi di Negara-negara di dunia, baik negara maju maupun Negara berkembang adalah adanya ketimpangan pendapatan dan tingkat kemiskinan. Ketimpangan distribusi pendapatan merupakan konsekuensi dari suatu pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan. Penelitian ini merupakan studi komparasi menggunakan data Badan Pusat Statistik, kemudian diolah menggunakan 3 metode sebagai perbandingan, yaitu Indeks Rasio Gini, Kurva Lorentz, dan ukuran Bank Dunia. Hasil studi menunjukkan bahwa Gini ratio bulan September 2018 cenderung menurun dari 0,389 pada bulan Maret 2018 menjadi 0,384 pada bulan September 2018 atau turun 0,005 point dari bulan Maret 2018 sehingga ketimpangan distribusi pendapatan Indonesia termasuk kategori ringan. Kriteria Bank Dunia relative inequality tingkat ketimpangan distribusi pendapatan Indonesia bulan September 2018 tergolong relatif rendah (low inequality). Hal ini ditunjukan kelompok 40% dari penduduk dengan pendapatan yang rendah dapat melakukan konsumsi per kapita sebesar 17,47%. Akan tetapi, kriteria ketimpangan yang ada kontradiksi dengan kenyataan saat ini. Kepemilikan kekayaan dari 1% dan 10% orang terkaya di Indonesia yang menguasai 46,6% dan 75,3% dari kekayaan negara. Pengeluaran per kapita penduduk kelompok terendah sebesar 17,47% dibandingkan dengan kelompok penduduk teratas yang 45,57%, ini menandakan bahwa tingkat konsumsi yang tinggi maka pendapatan juga tinggi. Terdapat crony capitalism yang kuat antara pengusaha, eksekutif, dan legislatif yang mampu membuat kebijakan pemerintah menguntungkan mereka. Sehingga menyebabkan yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin.

Published
2019-10-09